Gadis kecil berusia empat tahun itu sedang asyik mencoret coret
tanah di pekarangan rumahnya, sementara pembantu yang menjaganyaÂ
menjemur pakaian. Beberapa
waktu kemudian, ita si gadis kecil ini menemukan paku berkarat dan
memakainya untuk menggambar. Kemudian Ita berjalan ke garasi dan
mulai menggoreskan
paku itu di sedan hitam yang baru dibeli papanya. Dapat dibayangkan
apa yang terjadi dengan sedan itu.
Sore harinya, ketika papa dan mamanya pulang, dengan bangga Ita
menarik tangan papanya untuk memperlihatkan hasil karyanya di garasi.
Pemandangan di garasi
itu dengan cepat memompa emosi papanya dan karena lepas kendali
papanya memukuli tangan Ita dengan mistar. Ampun Pa ¦ ampun Pa itulah
jeritan yang
keluar dari mulut Ita tapi jeritan itu tidak dihiaraukan papanya.
Setelah merasa puas, papanya berhenti dan menyuruh pembantu untuk
mengurusi Ita yang
baru saja didisiplin tanpa pembelaan sang mama.
Tangis yang panjang melelahkan Ita dan ia pun tertidur. Ketika
pembantu memandikannya, dari awal sampai selesai mandi Ita menangis
karena merasa perih dikedua
tangannya. Ketika sipembantu memberitahukan majikannya, mereka hanya
menyuruhnya untuk mengoleskan salep. Keesokan harinya mereka bekerja
seperti biasa,
sementara tangan Ita mulai membengkak. Saat sipembantu menelepon
nyonyanya, ia kembali diperintahkan untuk mengoleskan salep dan
memberi obat demam. Hari
berganti dan suhu badan Ita mulai naik, namun kedua orang tua tidak
serius mengobati tangan Ita sampai suatu hari suhu tubuh Ita sangat
tinggi. Dengan
panic merekapun membawa Ita ke rumah sakit. Diagnosa dokter. Ita
demam diakibatkan oleh luka-luka di tangannya. Setelah diopname
selama satu minggu, akhirnya
dengan berat hati dokter memberitahukan kondisi Ita. “Tangannya
yang bernanah telah membusuk. Untuk menyelamatkan Ita maka kami harus
mengamputasi tangannya.
Dengan derail air mata dan penyesalan yang tak habisnya, Papa dan
Mama Ita menandatangani surat persetujuan. Singkat cerita, Ita
dioperasi dan setelah siuman
dengan menahan rasa sakit di tangannya ia berkata, Pa, Ita nggak akan
nakal lagi. Ita sayang sama Papa, sama Mama, tapi Pa, tolong
kembalikan tangan Ita,
Kalau nggak pinjam aja Pa, Ita janji nggak akan mengulanginya, Ita
nggak akan nakal lagi. Ayo Pa, kembalikan tangan ita�
Semua orang yang ada diruangan itu membisu, hanya isak tangis dan
derai air mata yang berbicara mewakili kesedihan dan penyesalan
mereka.
Efek yang ditimbulkan oleh amarah dan kehilangan kendali adalah
rasa sakit dan rasa bersalah. Dalam sebuah keluarga, kesalahan
seorang anak berpotensi
meningkatkan emosi orang tua, namun seharusnya orang tua
mempersiapkan diri dengan penguasaan diri yang tinggi sehingga dapat
mendidik anaknya tanpa meninggalkan
luka-luka batin pada anaknya.
Kata Kata Bijak: Panas hati hanya akan menyeret kita jatuh kedalam
perbuatan jahat dan penyesalan.
Artikel ini saya sunting dari milis sebelah…:)
——————————————–
EMPATI
By: Andy F Noya
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada
yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika
saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas
makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh
tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa
makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga
pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan
teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah
ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika,
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan
terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya
akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang
bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan
keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja
setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan
merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal
asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chicken Soup”, saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti
akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang
Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words” yang akan
membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir
kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. “Sementara
kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu diperoleh istri saya dari
sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan
umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri
tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati
pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan
pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan
kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga
apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.
Ita baru masuk SMU, masa-masa pubernya bikin
dia centil dan suka ngerjain
orang. Kali ini dia dapet kata-kata baru buat
ngerjain orang.
Hari pertama, dia nelepon temannya :
“Rin, gue udah tau semuanya !” “Hah..” Suara
disana terdengar lemas.”Ta,
elu jangan bilang Indri kalo gue jalan sama
cowoknya ya Ta. Gue ada voucher
makan di HokBen, elu jangan bilang-bilang yah.
Sori gue cuma bisa ngasih
itu doang.”
“Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue.”
Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak
girang. “Wah oke juga nih, gue
dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi.”
Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung
bicara pelan didekat
Kuping kakaknya yang lagi tiduran.
“Wa, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya
Wa.” Dewa langsung bangun,
mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita.
“Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue
kasih bensinnya. Tapi
jangan bilang Papi kalo gue nge-gele yah !!!”
“BeEres. ”
Ita benar-benar girang, kali ini dia mencegat
Papinya yang baru pulang
kerja.
“Pah,.” Ita mengejar Papinya yang cuek
bebek “Pah, Ita mau ngomong.”
” Ada apa sih Ta ?!! Papa capek nih.”
“Ita udah tau semuanya Pah…” Mendadak
Papanya celingukan, mengeluarkan
HP dan menelepon seseorang
“Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi.
Tapi !!! Jangan pernah
bilang Mama soal si Ijah.”
Ita girang campur sebel. Ternyata Papanya
menduakan Mama cuma demi
pembantunya si Ijah. Ita langsung berlari tanpa
sepatah katapun.
Diluar, Ita bertemu Pak Udi, sopirnya yang sudah
belasan tahun bekerja
dirumahnya. Ita mulai usil lagi. Dia kesal juga,
pasti dia tau soal si
Ijah, tapi bungkam selama ini, gue kerjain juga nih,
pikirnya.
“Pak !!!” Ita benar-benar membuat kaget
sopirnya “Saya sudah tau semuanya.”
Pak Udi terbengong, dan perlahan meneteskan
airmata. Ita malah bingung.
“Ita !!! Peluklah Bapakmu ini Sayang. Akhirnya kau
tahu juga Nak !”
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya.
Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan
mengepelnya
setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di
pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak
mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan.
Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak
dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang
diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku
juga akan
menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah
lepas dari semua
pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu karena engkau aku menjadi istri
yang baik dari suamiku
dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku
hingga
masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari
jendela kelas, ia masih duduk
di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan
rasa kantuk yang
menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang
penting aku senang ia menungguiku
sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama
teman-teman, bepergian. Tak pernah aku
menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat
tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang
dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan
bersamanya.Pakaian dan dandanannya yang
kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan
seringkali aku sengaja mendahuluinya
berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang
bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan
penampilannya, ia tak pernah
membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku
pakaian yang bagus-bagus agar aku
terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja
bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh
kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat
tubuhku ketika aku terjatuh,
membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku
semakin merasa
jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali
menganggap ibu sebagai orang bodoh,
tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang
berlangsung antara aku
dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan
kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan
dan tak mengerti
apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya.
Meski Ibu bukan orang berpendidikan,
tapi di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah
kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan
pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan
bagaimana meneguhkan hati, memantapkan
langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan,
jauh lebih indah dari
keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku
bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali
memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi
menjenguknya atau
menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada
suamiku hingga tak jarang aku
membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku
baru tahu bahwa segala
kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan menciummu Ibu,
meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
(Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)
One Night 4 College Students Were Playing Till Late Night
And Didn’t Study For The Test Which Was Scheduled For The Next Day.
In the morning they thought of a plan.
They made themselves look as dirty and weird with grease and dirt.
They then went up to the Dean and said that they had gone out to a wedding last night
and on their return the tire of their car burst and they had to push the car!
all the way back and that they were in no condition to appear for the test.
So the Dean said they can have the re-test after 3 days.
They thanked him and said they will be ready by that time.
On the third day they appeared before the Dean.
The Dean said that as this was a Special Condition Test,
All four were required to sit in seperate classrooms for the test.
They all agreed as they had prepared well in the last 3 days.
The Test consisted of 2 questions with the total of 100 Marks.
Q.1. Your Name…….. ……… ……..( 2 MARKS )
Q.2. Which tire burst ?……….. ….( 98 MARKS )
a) Front Left
b) Front Right
c) Back Left
d) Back Right …..!!!
WORD/MEANING MENTIONED IN THE QURAN
Al-Dunya (This World) 115 times=Al-Akhira (The Hereafter) 115 time
Al-Mala’Ikah (Angles) 88 times = Al-Shayateen (Satan) 88 times
Al-Hayat (Life) 145 times = Al-Maout (Death) 145 times
Al-Rajul (Man) 24 times = Al-Mar’ha (Women) 24 times
Al-Shahr (Month) 12 times = Total month is 12
Al-Yahom (Days) 365 times = Total Days is 365
Al-Bahar Sea 32 = Al-Bar (Land) 13
If we add up the total words of both "Sea" and "Land" 32+13 we get 45
Now we do a simple calculation:
32/45×100 = 71.11111111%
13/45×100 = 28.88888888%
Above is what we know today, The percentages of water (Sea) And Land in the word
Miracle of Quran
" This is the race of life. "
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?
Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu?
Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.
Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,
Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
A simple man tells how his booking an air ticket for his father, his
First flight, brought emotions and made him realize that how much we all
Take for granted when it comes to our parents.
My parents left for our native place on Thursday and we went to the
Airport to see them off. In fact, my father had never traveled by air
Before, so I just took this opportunity to make him experience the same.
In spite of being asked to book tickets by train, I got them tickets on
Lufthansa.
The moment I handed over the tickets to him, he was surprised to see
That I had booked them by air. The excitement was very apparent on his
Face, waiting for the time of travel. Just like a school boy, he was
Preparing himself on that day and we all went to the airport, right from
Using the trolley for his luggage, the baggage check-in and asking for
Window seat and waiting restlessly for the security check-in to happen.
He was thoroughly enjoying himself and I, too, was overcome with joy
Watching him experience all these things.
As they were about to go in for the security check-in, he walked up to
Me with tears in his eyes and thanked me. He became very emotional and
It was not as if I had done something great but the fact that this meant
A great deal to him.
When he said thanks, I told him there was no need to thank me.
But later, thinking about the entire incident, I looked back at my life.
As a child how many dreams our parents have made come true. Without
Understanding the financial situation, we ask for football, dresses,
Toys, outings, etc. Irrespective of their affordability, they have
Satisfied all our needs. Did we ever think about the sacrifices they had
To make to accommodate many of our wishes?
Did we ever say thanks for all that they have done for us?
Same way, today when it comes to our children, we always think that we
Should put them in a good school. Regardless of the amount of donation,
We will ensure that we will have to give the child the best, theme
Parks, toys, etc. But we tend to forget that our parents have sacrificed
A lot for our sake to see us happy, so it is our responsibility to
Ensure that their dreams are realized and what they failed to see when
They were young, it is our responsibility to ensure that they
Experience all those and their life is complete.
Many times, when my parents had asked me some questions, I have actually
Answered back without patience. When my daughter asks me something, I
Have been very polite in answering. Now I realize how they would have
Felt at those moments.
Let us realize that old age is a second childhood and just as we take
Care of our children, the same attention and same care need to be given
To our parents and elders.
Rather than my dad saying thank you to me, I would want to say sorry for
Making him wait so long for this small dream. I do realize how much he
Has sacrificed for my sake and I will do my best to give the best
Possible attention to all their wishes. Just because they are old does
Not mean that they will have to give up everything and keep sacrificing
For their grandchildren also. They have wishes, too.
Take care of your parents.
He was a young boy who lived with his elderly Mother. His mother wanted him to learn how to play the piano because she Longed to hear her son play for her. She sent her son to a piano teacher who Took Robby in under her guidance.
However, there was one small problem Because Robby was not musically inclined and therefore was very slow in Learning.
The teacher did not have much faith in the boy because of his Weakness. The mother was very enthusiastic and every week she would send Robby to the teacher.
One day Robby stopped attending the piano lessons. The teacher thought that He had given up and in fact she was quite pleased since she did not give Much hope to Robby. Not long after, the piano teacher was given the task to Organize a piano concert in town. She sent out circulars to invite the Students and public to attend the event.
Suddenly, she received a call from Robby who offered to take part in the concert. The teacher told Robby that He was not good enough and that he was no longer a student since he had Stopped coming for lessons.
Robby begged her to give him a chance and Promised that he would not let her down.
Finally, she gave in and she put him to play last, hoping that he will Change his mind at the last minute. When the big day came, the hall was Packed and the children gave their best performance. Finally ,
It was Robby’s Turn to play and as his name was announced, he walked in. He was not in Proper attire and his hair was not properly groomed.
The teacher was really Nervous since Robby’s performance could spoil the whole evening’s brilliant Performance.
As Robby started playing the crowd became silent and was amazed At the skill of this little boy. In fact, he gave the best performance of The evening. At the end of his presentation the crowd and the piano teacher Gave him a standing ovation. The crowd asked Robby how he managed to play so Brilliantly.
With a microphone in front of him, he said, "I was not able to Attend the weekly piano lessons as there was no one to send me because my Mother was sick with cancer. She just passed away this morning and I wanted Her to hear me play. You see, this is the first time she is able to hear me Play because when she was alive she was deaf and now I know she is listening To me. I have to play my best for her!"
SUCCESS PRINCIPLES
This is indeed a touching story of love and excellence. When you have a
Passion and a reason to do something, you will surely excel. You may not be Talented or gifted but if you have a strong enough reason to do something, You will be able to tap into your inner God given potential.
MOTIVATIONAL QUOTE
" Find the good. It’s all around you. Find it, showcase it and you’ll start
Believing in it."